Abu Nawas, Koja Nasruddin, Si Kabayan

SI Kabayan ternyata punya saudara-saudara tua di dunia Arab, yaitu tokoh sufi Abu Nawas, Koja Nasruddin, dan Junayd. Ketiga tokoh “Arab” ini menampilkan diri sebagai sosok yang cerdas dan bodoh yang menimbulkan efek humor. Begitu pula Si Kabayan yang dilahirkan di daerah Banten. Tokoh kesayangan masyarakat Sunda ini ternyata berstatus sufi juga, atau setidaknya dipakai untuk mengungkapkan pikiran sufistik.

Menurut C. Hooykaas, tokoh semacam Si Kabayan di Pasundan sebenarnya banyak. Mereka hadir dengan nama yang berbeda-beda. Sebutlah Si Kidul, Bapa Leco, Bapa Lucung, Ahli Nujum, Nujum Sangsara, dan Si Buta Tuli.

Semua nama ini rupanya kemudian disatukan ke dalam satu nama saja, yakni Si Kabayan. Itulah sebabnya karakter Si Kabayan itu paradoks. Pada suatu ketika ia bisa sangat bodoh, tidak bisa membedakan mayat dan orang hidup. Pada ketika lain dia amat cerdas sehingga dapat menyadarkan mertuanya mengakui kesalahannya.

Ada kemungkinan bahwa tokoh Si Kabayan merupakan campuran dari cerita-cerita si bodoh dan si cerdas. Teman-teman bodohnya terdapat di berbagai suku di Indonesia yang dikenal sebagai Si Pandir, Joko Bodo, dan Ama ni Pandir di Batak, sedangkan tokoh cerdasnya ada di Melayu, yaitu Si Luncai.

Dalam khazanah sufi dunia, Abu Nawas lebih menonjol sebagai tokoh cerdas, sedangkan Koja Nasruddin sebagai tokoh bodoh. Dan Si Kabayan berkarakter dua-duanya. Jadi, Si Kabayan itu gabungan dari Abu Nawas dan Koja Nasruddin…

Si Kabayan itu pemalas, suka makan enak, suka sekali tidur, banyak menganggur, miskin, dan jarang bersosialisasi. Watak yang kurang terpuji di zaman modern ini. Tampaknya, itu sengaja digambarkan demikian oleh para pengarang ceritanya. Si Kabayan adalah gambaran seorang pengikut tarekat terutama yang sudah mencapai tingkat sufi. Seorang sufi itu memilih hidup miskin daripada kaya, hina daripada mulia (penganggur dan penidur), menjauhi pergaulan, lapar daripada kenyang (Kabayan suka makan enak), “mati” daripada hidup (kudu bisa paéh saméméh paéh), “bodoh” daripada pintar.

Rupanya, cerita-cerita Si Kabayan muncul dari kumpulan-kumpulan tarekat di wilayah Banten. Cerita-cerita Si Kabayan sendiri juga bersifat paradoks. Dari satu sisi cerita Kabayan itu lucu dan mengggelikan, tetapi cerita yang sama memiliki sisi sebaliknya, yakni menyedihkan. Seorang sufi di Timur Tengah abad 9 menyatakan bahwa “kalau kamu mengetahui apa yang saya ketahui, engkau akan sedikit tertawa dan akan banyak menangis”.

Dunia ini fana, dan carilah yang baka. Jadi, Kabayan dan cerita-ceritanya paradoks, seperti sufisme itu sendiri, penuh pikiran dan peristiwa paradoks.

Dengan demikian, cerita-cerita Si Kabayan bukan sembarangan. Cerita-cerita “dongeng” itu sufistik dan pantas disejajarkan dengan cerita para pendahulunya, Abu Nawas dan Koja Nasruddin. Snouck Hurgronje pernah mengumpulkan 121 cerita Si Kabayan yang 80 di antaranya diangkat sebagai disertasi oleh Lina Maria Coster-Wijaman pada tahun 1929. Kumpulan cerita Si Kabayan tak kalah banyak dengan Koja Nasruddin dan Abu Nawas. Amat disayangkan bahwa cerita-cerita Si Kabayan bahkan tak dikenal oleh masyarakat Indonesia sendiri.

Dunia dalam cerita-cerita Si Kabayan itu terbatas. Ia selalu berselisih dengan bapak mertuanya, tetapi disayangi oleh ibu mertua dan neneknya (simbol makrifat). Kabayan juga selalu bertengkar dengan istrinya, namun tetap menjadi istrinya (rukun bertengkar). Nama istri Si Kabayan ini Si Iteung, tetapi di Banten dikenal dengan nama Si Kendeng atau kadang Cemuweuk. Ini menunjukkan sumber yang berbeda-beda. Tetangganya yang selalu ditipunya adalah Ki Silah dan orang yang selalu dihormatinya adalah Kiai.

Sebuah cerita Abu Nawas masuk dalam cerita Si Kabayan. Inilah ceritanya, Abu Nawas diuji oleh raja karena terkenal kepintarannya. Abu Nawas disuruh menghitung bintang di langit. Jawaban Abu Nawas adalah membawa seember pasir di hadapan raja dan diminta untuk menghitungnya. Tentu saja raja tak mampu. Moral cerita ini adalah bahwa ada hal-hal yang tak mungkin diketahui oleh manusia, dan kita tak usah mencoba memasukinya.

Dalam Si Kabayan, cerita ala Abu Nawas ini lebih kaya. Kabayan diminta “musuh abadinya” Ki Silah untuk menghitung bintang. Si Kabayan menyuruh Ki Silah untuk menghitung bulu kambing.

Lalu Kabayan disuruh mengikat tangannya dengan air. Kabayan mau membuat tali dari air dulu, dan Ki Silah yang harus menyediakan tali itu. Akhirnya, Ki Silah menantang Kabayan apakah pernah melihat setan? Jawab Kabayan, “Saya sedang berhadapan dengan dia (Ki Silah)”.

Tampak di sini kreativitas pengembangan cerita oleh para pengarang Si Kabayan. Hal-hal yang tidak mungkin diketahui dan tak mungkin dilakukan itu hanya godaan setan belaka. Jangan pernah mencoba menjelaskan dan melakukannya.

Koja Nasruddin pernah mimpi, begitu pula Si Kabayan pernah mimpi. Koja mimpi sedang negosiasi sebuah kontrak ratusan juta, dibangunkan oleh istrinya yang menyediakan sarapan pagi. Koja marah-marah karena kontrak belum dia tanda tangani dalam mimpi. Sarapan sama sekali tak ada artinya dibandingkan dengan mimpi kontrak ratusan juta itu. Moral cerita ini, mana lebih penting bagi manusia, mimpi jadi saudagar kaya atau sarapan pagi yang realitas? Bisakah orang mimpi tanpa makan?

Si Kabayan juga pernah mimpi mandi di kali. Ia tanya mertuanya, apa artinya? Kamu mandi di mana? Di bagian hilir. O, kamu akan jadi camat. Tidak, agak hulu. O, kamu akan jadi bupati. Bukan, lebih hulu lagi. O, kamu akan jadi gubernur. Kalau lebih hulu lagi? Kamu jadi presiden. Lebih hulu lagi? Kamu akan dikerkah harimau. Saya pilih di tempat yang jadi presiden saja. Seperti Nasrudin, Si Kabayan juga memandang mimpi sebagai realitas.

Cerita Si Kabayan kadang-kadang jorok-pornografis. Ketika Kabayan sedang memandikan kerbaunya, ia diintip oleh istrinya sedang menyetubuhi kerbaunya. Istrinya marah dan membawa pulang pakaian Kabayan. Ketika Kabayan pulang menggiring kerbaunya, datang rombongan lurah mengadakan gotong royong memotong pohon-pohon bambu.

Kabayan bertanya, “Mengapa ramai-ramai itu?”

Kata istrinya, “Pak lurah mencari orang yang menyetubuhi kerbau.”

Kabayan langsung sembunyi di rumpun bambu. Ketika rombongan sampai di rumpun bambu, pak lurah menyuruh anggota rombongannya menebang habis rumpun itu. Kabayan keluar telanjang dari rumpun bambu sambil marah-marah.

“Apa peduli kalian! Kerbau, kerbauku sendiri, Kukawini, kawini sendiri! Perkara nanti jadinya bagaimana, itu urusanku!” Tentu saja rombongan kerja bakti itu melongo semua.

Di sini Kabayan itu pembohong yang bodoh. Perbuatannya salah, pikirannya benar, yakni dia “tobat” tak langsung dengan mengakui perbuatannya yang dikiranya semua orang sudah mengetahuinya. Laku tobat memang merupakan salah satu jalan tarekat. Pertobatan Kabayan semacam itu banyak dijumpai di berbagai cerita.

Cerita-cerita Si Kabayan bukan hanya berhenti di tingkat tarekat, tetapi juga memasuki tingkat hakikat. Salah satu ceritanya begini. Kabayan menjumpai mayat seorang cantik di pinggir jalan. Dikiranya perempuan cantik itu naksir padanya karena tersenyum dan terus-menerus menatap Si Kabayan ke mana pun Kabayan berposisi.

Ketika Kabayan mau menciumnya, bau tak sedap tercium. Ia mengira perempuan itu kurang minyak wangi. Maka Kabayan pergi ke majikan perempuannya dan minta sedikit minyak wangi. Ketika majikannya bertanya untuk apa, tahulah majikan itu bahwa yang dijumpai Kabayan adalah mayat.

Majikan si perempuan langsung masuk rumah, dan tiba-tiba kentut. Bau tak sedap dicium Kabayan sehingga ia menganggap majikannya sudah mati pula karena baunya seperti mayat. Majikannya langsung dibopong dan dibuang di pinggir jalan juga.

Makna hakikatnya adalah bahwa mayat seperti orang hidup, orang hidup seperti mayat. Manusia seperti majikan itu, yang hanya memikirkan milik secara kikir adalah mayat yang hidup. Hidup seorang sufi justru sebaliknya, yakni paéh saméméh paéh.

Demikianlah puluhan cerita Si Kabayan berkualitas semacam itu. Hampir semuanya bersifat sufistik, terutama di tingkat tarekat dengan memainkan kebodohan manusia yang tak kunjung tobat. Serakah, menipu, ingkar janji, balas dendam.

Cerita-cerita itu menertawakan diri kita ini. Manusia-manusia bodoh spiritual, jauh dari jalan rohani. Tokohnya Si Kabayan yang bodoh secara spiritual, dan cerdas-cerdik secara manusia.

Pesan cerita Si Kabayan universal karena mistisisme memang universal. Hanya cara mengungkapkannya secara Sunda.

Saya kira cerita-cerita Si Kabayan pantas disejajarkan dengan Abu Nawas (cerita kepintarannya) dan Koja Nasruddin (cerita kebodohannya). Cerita-cerita itu bersifat komedi karena menertawakan kebodohan manusia, tetapi sekaligus juga tragedi karena sebenarnya kisah sedih manusia yang jauh dari rohani.

Si Kabayan itu paradoks, bisa dibaca dari sisi komedinya (seperti kita lakukan selama ini), tetapi juga bisa kita baca dari sisi tragedinya. Tertawa dari sisi eksoterik dan awam, menangis dari sisi esoterik dan sufistik.

Cerita-cerita mistisisme semacam itu ada di banyak sistem kepercayaan. Dan karakternya sama, menertawakan kebodohan manusia!***

Sumber: Pikiran Rakyat, Minggu, tanggalna mah poho deui.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s